Kredit Pemilikan Rumah

Inilah Rumus dan Contoh Perhitungan KPR Rumah di Indonesia

Lebih dari 80% masyarakat Indonesia menjadikan KPR sebagai cara utama dalam membeli rumah. Apakah kamu juga tertarik untuk melakukannya? Jika iya, maka kamu harus tahu dulu seperti perhitungan KPR rumah di Indonesia, jadi kamu bisa memiliki gambaran. Coba cek simulasi di bawah ini ya.

Tentang KPR Rumah

Rumah adalah kebutuhan pokok yang harganya paling mahal jika dibanding dua kebutuhan lainnya, yaitu pakaian dan makanan, Belum lagi harganya yang terus naik setiap tahun telah membuat banyak orang pesimis untuk memiliki rumah sendiri.

Sebagai solusi, perbankan mengeluarkan produk pinjaman dalam bentuk “Kredit Pemilikan Rumah” atau lebih akrab dengan nama “KPR”. Sistem KPR ini termasuk salah satu cara paling populer di Indonesia untuk membeli rumah hunian. 

Perhitungan KPR rumah

 

Alasannya cukup sederhana, karena dengan KPR, pembeli tidak perlu membayar lunas rumah tersebut. Jadi calon pembeli yang belum memiliki cukup uang pun tetap bisa memiliki rumah atas nama sendiri dan selanjutnya hanya perlu membayar cicilan dengan nominal yang sudah disepakati selama beberapa tahun.

(Baca Juga: Apa Itu KPR Subsidi dan Non Subsidi?)

Tapi, sistem KPR juga memiliki kekurangan lho, yaitu dalam hal harga dari rumah itu sendiri. Sebenarnya tidak hanya rumah, tapi barang apapun yang dibeli dengan sistem kredit / cicilan akan memiliki harga total yang lebih tinggi daripada pembelian sekali bayar.

Nah, fungsi dari perhitungan KPR rumah adalah untuk membantu kamu mengetahui total harga dari rumah yang ingin kamu beli dengan sistem kredit, jadi nantinya kamu tidak akan kaget atau pun bingung jika harga akhirnya lebih tinggi daripada harga yang diiklankan oleh pihak developer.

Selain itu, mengetahui jumlah cicilan per bulan yang nantinya harus dibayar juga akan membantu kamu mengetahui apakah kamu benar-benar bisa sanggup membayarnya atau tidak. 

Jadi, perhitungan KPR rumah ini akan sangat membantu dalam mengambil keputusan yang tepat sekaligus membantu membuat rencana keuangan pribadi yang sehat di masa depan. 

Perhitungan KPR Rumah

Perhitungan KPR rumah

Agar kredit rumah kamu berjalan lancar dan tidak memberatkan, kamu perlu melakukan perhitungan KPR rumah terlebih dulu untuk mengetahui berapa besar cicilan per bulan yang harus kamu bayarkan bersama dengan biaya-biaya lainnya. Cek masing-masing perhitungannya di bawah ini yuk.

  • Uang Muka

Secara umum, ada dua jenis uang muka dalam dunia KPR, yaitu uang muka yang biasa disebut DP (Down Payment) dan uang muka yang disebut booking fee (uang tanda jadi). Masing-masing penjelasannya bisa kamu cek di bawah ini:

  • Down Payment 

Pengertian dari DP adalah jenis pembayaran yang dilakukan pada tahap awal pembelian barang atau jasa yang mahal, misalnya rumah. Jumlah DP dihitung berdasarkan persentase dari harga pembelian penuh, yang dalam beberapa kasus, DP ini tidak dapat dikembalikan jika kesepakatan gagal karena pembeli. 

  • Booking Fee

Sedangkan definisi dari booking fee adalah biaya pemesanan yang diberikan oleh pembeli kepada penjual sebagai tanda bahwa pembeli akan membeli barang yang dimaksud tapi belum memiliki uang yang cukup untuk membayar DP. 

Mirip dengan DP, booking fee juga tidak bisa dikembalikan jika pembeli membatalkan pembelian. Besarnya booking fee sangat bervariatif tergantung dari masing-masing developer ya, yang selanjutnya juga bergantung lagi pada jenis / tipe rumah yang akan dibeli.

Tapi sebagai gambaran, booking fee biasanya berkisar dari Rp 500.000 – Rp 2.000.000. Sedangkan perhitungan KPR rumah untuk DP adalah mulai dari 15 – 30% dari harga total rumah tersebut, tergantung kebijakan dari masing-masing bank yang bersangkutan. 

 Perhitungan KPR rumah

Loh, mengapa DP ini ditentukan oleh pihak bank dan bukan developer? Karena sebenarnya, bank adalah pihak yang meminjamkan kamu uang untuk membeli rumah tersebut, jadi kamu berhutang kepada bank dan bukan developer. 

Sedangkan developer sebenarnya tidak pernah menerima sistem cicil dalam pembelian rumah. Misalnya rumah yang ingin kamu beli seharga Rp 700.000.000, dan besarnya DP yang ditentukan oleh Bank X adalah 15%, maka jumlah uang yang harus kamu siapkan untuk DP adalah: 

  • Rumus DP = 15% x harga rumah yang ingin kamu beli

= 15% x Rp 700.000.000

= Rp 105.000.000                           

  • Pokok Kredit

Biaya paling besar kedua setelah DP adalah pokok kredit. Pengertian umum dari “kredit” adalah dana / sejumlah uang yang dipinjamkan pihak bank ke kamu, dan yang harus dikembalikan dalam periode waktu tertentu dengan dicicil setiap bulan (bersama dengan denda berupa bunga jika kamu telat membayar).

Sedangkan pengertian dari “pokok kredit” adalah jumlah total dari kredit / pinjaman yang masih tersisa setelah dipotong DP tapi belum termasuk bunga yang diberikan oleh pihak bank. Dengan contoh DP seperti perhitungan di atas, bisa diketahui bahwa pokok kredit yang perlu kamu lunasi adalah:

  • Rumus Pokok Kredit = harga rumah yang kamu beli – DP rumah

= Rp 700.000.000 – Rp 105.000.000

= Rp 597.000.000

  • Biaya Provinsi

Saat mengajukan KPR, pihak bank akan menyiapkan berbagai dokumen, berkas, atau hal lain apapun yang yang berhubungan dengan proses pengajuan dan pemberian pinjaman, mulai dari materai kontrak, fotokopi, scan dokumen, komisi untuk marketing, dan sebagainya.

Total biaya dari keperluan inilah yang disebut dengan “biaya provisi”, dan yang akan dibebankan ke kamu selaku pemohon KPR. Besarnya biaya provisi sangat tergantung pada masing-masing bank dan berapa banyak keperluan yang harus dibeli. 

Tapi biasanya, sejumlah bank di Tanah Air sudah menggunakan rumus paten dalam menghitung biaya provisi, jadi meskipun keperluan yang dibeli tidak sangat banyak, biaya provisi bisa tetap sangat tinggi karena rumus yang sudah ditentukan oleh pihak bank ini.

  • Rumus Biaya Provisi = 1% x pokok kredit

= 1% x Rp 597.000.000

= Rp 5.970.000

  • BPHTB

BPHTB adalah singkatan dari “Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan” atau secara awam disebut pajak pembelian rumah plus lahan tempat berdirinya rumah tersebut, yang tentu saja akan dibebankan kepada kamu selaku pembeli. 

Pajak ini mirip dengan PPh yang dibebankan kepada penjual jika dalam sistem perdagangan. Dalam perhitungan BPHTB, ada komponen lain yang harus dimasukkan, yaitu NJOPTKP (Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak).

(Baca Juga: Syarat dan Cara Mengurus Take over KPR)

Jumlah dari NJOPTKP ini sendiri tidak sama antara satu wilayah dengan wilayah lainnya, dan bahkan bisa berubah kapan saja sesuai dengan peraturan pemerintah. 

Tapi untuk saat ini, besarnya NJOPTKP menurut Keputusan Menteri Keuangan Nomor 201/KMK.04/2000 di seluruh daerah di Indonesia (kota ataupun kabupaten) setinggi-tingginya adalah Rp 12.000.000. Misalnya rumah yang akan kamu beli tadi berada di wilayah Jakarta, yang untuk saat ini memiliki nilai NJOPTKP sebesar Rp 60.000.000, maka kamu bisa mengetahui BPHTB kamu dengan rumus berikut:

  • Rumus BPHTB = 5% x (harga rumah yang kamu beli – NJOPTKP)

= 5% x (Rp 700.000.000 – Rp 60.000.000)

= Rp 32.000.000

Sedangkan untuk kamu yang membeli rumah di daerah Malang, Jawa Timur, besarnya NJOPTKP adalah Rp 10.000.000. Jika rumah yang kamu beli di daerah ini adalah Rp 350.000.000 misal, maka besarnya BPHTB yang harus kamu bayar adalah:

  • Rumus BPHTB = 5% x (harga rumah yang kamu beli – NJOPTKP)

= 5% x (Rp Rp 350.000.000 – Rp 10.000.000)

= Rp 17.000.000

PNBP

PNBP adalah singkatan dari “Penerimaan Negara Bukan Pajak”, yang merupakan seluruh dana yang diterima oleh pemerintah pusat selain dari perpajakan. Tarif dari PNBP ini bisa berbeda-beda tergantung pada jenis pelayanan / jasa hukum apa yang kamu gunakan. 

Jenis PNBP untuk pengurusan dokumen KPR rumah biasanya dimasukkan dalam kategori “Legalisasi Tanda Tangan yang Tercantum dalam Dokumen”, karena berkaitan dengan Balik Nama. Tarifnya sendiri adalah Rp 50.000 (tarif bisa berubah kapan saja sesuai peraturan pemerintah).

  • Rumus PNBP Rumah KPR = (1/1000 x harga rumah) + Rp 50.000 

= (1/1000 x Rp 700.000.000) + Rp 50.000

= Rp 750.000

  • BBN (Biaya Balik Nama)

Biaya balik nama biasanya tergantung pada aturan masing-masing bank. Tapi berapapun tarifnya, kamu bisa gunakan rumus perhitungan berikut:

Rumus BBN = (1% x harga rumah) + biaya balik nama yang ditentukan pihak bank

= (1% x Rp 700.000.000) + Rp 400.000

= Rp 7.500.000

Pahami dulu dengan baik perhitungan KPR rumah dalam daftar di atas, lalu cobalah terapkan rumusnya pada harga rumah yang ingin kamu dan kamu bisa tahu berapa banyak anggaran yang harus kamu siapkan untuk mengajukan KPR.

 

What's your reaction?

Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *