Investasi

Resiko Berinvestasi, Ini 8 Faktor yang Mempengaruhi

Resiko Berinvestasi

Faktor yang Mempengaruhi Resiko Berinvestasi – Setiap aktivitas tentu ada resikonya, tidak terkecuali investasi. Bahkan, investasi merupakan salah satu bentuk aktivitas ekonomi yang berisiko tinggi, meski tingkat resiko kembali ke masing-masing bentuk investasinya. Resiko berinvestasi sangat beragam sehingga wajib bagi investor untuk memahami hal ini.

Resiko Berinvestasi

Umumnya, bentuk investasi yang menawarkan imbal hasil tinggi cenderung memiliki tingkat resiko tinggi. Sebaliknya, resiko berinvestasi akan lebih ringan pada investasi yang menawarkan imbal hasil rendah. Untuk itu, memahami faktor yang berkaitan dengan resiko investasi sebelum memulainya sangat penting.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Resiko Berinvestasi

 1. Resiko Pasar

Resiko Pasar

Sentimen pasar keuangan meliputi obligasi dan saham sangat fluktuatif dan mempengaruhi nilai naik turunnya aset yang kamu miliki. Resiko yang terkait dengan perubahan sentimen yang terjadi di pasar keuangan dikenal dengan istilah resiko pasar atau resiko sistematik. 

Resiko sistematik maksudnya adalah resiko umum yang tentu akan selalu dialami para investor dan tidak pernah dapat dihindari. Adanya resiko pasar sangat berpengaruh terhadap nilai pokok investasi para investor atau capital loss. 

Isu-isu politik nasional termasuk resesi ekonomi, kerusuhan dan lain sebagainya sangat berpengaruh terhadap sentimen di pasar keuangan. Terlepas dari penyebab sentimen di pasar keuangan, kamu sebagai investor tidak harus langsung mengambil langkah seribu dengan melepas saham atau obligasi.

(Baca Juga: Keuntungan dan Kerugian Investasi Saham yang Harus Kamu Tahu)

Kemampuan untuk memprediksi kondisi pasar keuangan sangatlah sulit dan seringkali tidak dapat tepat 100%. Oleh karena itu, bagi investor pemula, akan lebih baik jika investasi dilakukan secara teratur dalam jumlah sedikit. Tujuannya adalah agar resiko dapat dikelola dengan cermat. 

2. Resiko Inflasi

Resiko Inflasi

Resiko terjadinya inflasi menjadi salah satu resiko berinvestasi di pasar keuangan yang sangat umum ditemui. Resiko ini berpengaruh terhadap daya beli masyarakat karena nilai uang yang tergerus terhadap barang konsumsi. 

Resiko inflasi dapat merugikan daya beli masyarakat karena harga barang konsumsi yang terus mengalami kenaikan. Akibatnya, kemampuan masyarakat untuk membeli barang konsumsi pun menurun. Resiko ini dialami oleh investor yang mana nilai tunai mata uangnya akan menurun akibat inflasi.

Sebagai contoh, dana tunai sebesar Rp 100 juta yang mengalami inflasi tahunan hingga sebesar 3%, maka dana tunai investor tersebut akan berkurang nilainya hingga sebesar Rp 3 juta. Nilai ini didapat dari Rp 100 juta x 3%.

3. Resiko Suku Bunga

Resiko Suku Bunga

Jika kamu memilih obligasi ataupun pinjaman sebagai instrumen investasi, maka risiko terkait suku bunga akan sangat berpengaruh terhadap resiko berinvestasi kamu secara keseluruhan. Secara umum, risiko suku bunga akan mengakibatkan harga obligasi berbasis bunga menurun di pasar uang.

Sebagai contoh, saat pemerintah mengeluarkan ketentuan sukuk ritel dengan suku bunga mencapai 12% sementara suku bunga obligasi sebesar 8 sampai 10%, maka hal tersebut akan membuat banyak investor beralih ke sukuk ritel karena imbal hasil yang ditawarkan lebih besar.

Teknik untuk mengukur resiko terkait suku bunga adalah dengan mengukurnya menggunakan rentang waktu obligasi. Mengingat pendapatan investasi berbasis obligasi sangat terpengaruh oleh suku bunga, sangat penting bagi kamu mengikuti perkembangan berita terkait suku bunga yang ditetapkan pemerintah. 

4. Resiko Nilai Tukar Mata Uang Asing

Resiko Berinvestasi

Sangat sulit untuk memprediksi dengan tepat nilai tukar mata uang asing di pasar keuangan. Perubahan kurs valuta asing disebabkan oleh berbagai faktor yang sangat rumit dan kadang tidak terduga. Oleh karenanya, resiko valuta asing menjadi salah satu bentuk resiko berinvestasi yang umum ditemui.

Resiko ini muncul ketika nilai tukar mata uang asing sangat jauh berbeda dari perkiraan. Hal ini umum terjadi mengingat nilai tukar mata uang asing terhadap mata uang domestik memang mudah berfluktuasi. 

Resiko mata uang asing dikenal dengan istilah exchange rate risk atau currency risk. Resiko mata uang asing ini sering dialami oleh pemerintah saat menerbitkan surat hutang negara. Ketika mata uang Rupiah menguat, maka jumlah hutang beserta bunga yang dibayar pemerintah tentu lebih sedikit.

Sebaliknya, ketika mata uang Rupiah terhadap Dolar melemah, maka pemerintah membutuhkan uang Rupiah yang lebih banyak untuk membayar pokok hutang beserta bunganya. 

5. Resiko Likuiditas

Resiko Likuiditas

Sulitnya memperoleh uang tunai pada jangka waktu tertentu menyebabkan munculnya resiko likuiditas pada pasar keuangan. Resiko likuiditas umumnya disebabkan oleh aset penghutang yang sulit diuangkan pada waktu tertentu akibat tidak ada pihak yang mau membeli aset tersebut di pasar. 

Akibat tidak terjualnya aset tersebut di pasar, menyebabkan pihak pengutang tidak mampu membayar tagihan kewajibannya yang sudah jatuh tempo meski nilai aset yang dimilikinya cukup untuk membayar seluruh tagihan kewajibannya. Ini menjadi salah satu resiko berinvestasi yang umum ditemui.

Sulitnya suatu aset untuk diuangkan atau dikonversikan menjadi dana tunai segar membuat aset tersebut dinilai tidak likuid. Resiko likuiditas sangat umum ditemukan di pasar keuangan berukuran kecil atau yang baru bertumbuh karena jumlah pihak pembeli dan penjual umumnya belum seimbang. 

6. Resiko Kondisi Negara

Resiko Berinvestasi

Tidak heran jika seorang investor akan sangat memperhatikan kondisi suatu negara termasuk keamanannya ketika memutuskan untuk berinvestasi. Hal ini mengingat salah satu resiko berinvestasi terbesar yang sering menjadi momok investor adalah sovereign risk atau kondisi perpolitikan negara.

Negara dengan kondisi politik yang bergejolak cenderung tidak stabil. Sehingga, hal tersebut akan sangat berpengaruh terhadap iklim investasi di negara tersebut. Selain kestabilan negara, resiko kondisi negara juga berkaitan dengan perubahan peraturan perundang-undangan terkait investasi. 

(Baca Juga: Simak Yuk, Cara Memulai Bisnis Online Tanpa Modal)

7. Resiko Penipuan

Resiko Penipuan

Resiko ini sangat lumrah dialami oleh para pemain saham pemula. Banyak yang tergiur dengan iming-iming imbal hasil besar tanpa terlebih dahulu memahami seluk beluk saham. Untuk menghindari resiko penipuan, ada baiknya kamu mempelajari seluk beluk terkait saham terlebih dulu.

Jangan mudah tergiur dengan imbal hasil besar karena pada umumnya imbal hasil besar akan selaras dengan resiko berinvestasi yang juga besar. 

8. Resiko Kerusakan atau Kehilangan Barang

Resiko Berinvestasi

Resiko satu ini merupakan resiko yang sangat lumrah dialami oleh para investor di bidang aset real seperti emas dan properti. Aset emas fisik memang berisiko tinggi terutama jika disimpan di dalam rumah. 

Kasus pencurian, perampokan hingga bencana alam sangat mungkin menyebabkan kamu kehilangan aset. Oleh karena itu sebaiknya simpan emas di tempat terpercaya seperti bank atau Pegadaian. Tentunya kamu harus mengeluarkan biaya tambahan untuk menyewa safe deposit box.

Sementara pada aset properti, kamu harus mengeluarkan dana tambahan untuk merawat properti agar tidak rusak atau memperbaiki kerusakan yang terjadi.

9. Resiko Investasi Ulang

Resiko Investasi Ulang

Investasi ulang atau reinvestment adalah resiko terkait keuangan yang berkaitan dengan aktivitas perusahaan untuk berinvestasi ulang. Resiko ini bisa muncul mengingat besar imbal hasil sangatlah fluktuatif sehingga akan berpengaruh terhadap biaya yang harus dikeluarkan investor.

Memahami berbagai resiko berinvestasi akan membantu kamu untuk dapat merencanakan pengelolaan investasi yang lebih strategis. Meminimalisir resiko yang timbul salah satunya adalah dengan cara mendiversifikasi aset investasi.

 

What's your reaction?

Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in:Investasi