Finansial

Lakukan Langkah Menuju Kebebasan Finansial untuk Mencapai Titik Hidup Tertinggi

Kebebasan finansial adalah salah satu titik hidup yang didambakan banyak orang. Namun, setiap orang memiliki masa sendiri-sendiri untuk mencapai tahap tersebut.

Baca Juga : 13 Tanda Kamu Belum Matang Secara Finansial Ini Harus Segera dihilangkan!

Agar kamu segera mencapai titik tersebut, kamu bisa mengikuti langkah menuju kebebasan finansial berikut.

Berikut Fase-Fase Kebebasan Finansial

Sebelum membahas cara mencapai kebebasan finansial, ada baiknya jika kamu memahami apa saja fase atau tahap seseorang hingga dapat disebut bebas finansial.

1. Dependence

Dependence memiliki arti ketergantungan. Dari nama tersebut barangkali kamu sudah mendapat gambaran seperti apa fase ini.

Kondisi finansial ini terjadi ketika kamu masih menggantungkan seluruh maupun sebagian kebutuhan fiansialmu kepada orang lain. Contoh, semua anak yang belum bekerja pasti berada di tahap ini karena masih ditanggung oleh orang tua.

Namun, banyak orang-orang yang sudah bekerja masih berada di tahap ini. Mereka adalah orang-orang yang mengambil kredit suatu barang, berutang kepada kerabat/teman untuk berobat, maupun berutang ke bank untuk memulai suatu usaha.

Berapapun usiamu, sebanyak apapun gajimu, apabila kamu masih mengalami hal-hal tersebut, artinya kamu masih berada di fase dependence.

2. Solvency

Pada tahap ini, kamu mulai tidak tergantung dengan orang lain. Jika kamu masih memiiki utang maupun kredit, tetapi gaji yang kamu dapatkan imbang dengan pengeluaran atau lebih besar dibandingkan pengeluaran maka kamu sudah mencapai tahap solvency.

3. Stability

Kamu sudah mencapai tahap ini apabila pemasukanmu jauh lebih besar dibandingkan utang/pengeluaranmu bahkan kamu sudah tidak memiliki utang maupun kredit sama sekali sehingga kamu bisa menabung.

4. Debt Freedom

Dari namanya tentu sudah sangat jelas bahwa tahap ini adalah tahap kebebasan finansial tanpa utang sama sekali. Kamu benar-benar terbebas dari segala cicilan dan utang. Uang yang kamu tabung jumlahnya semakin banyak.

Kamu juga sudah tidak khawatir dengan pendapatanmu. Bila di akhir bulan gajimu sudah habis, kamu masih memiliki dana cadangan sehingga tidak perlu berutang kepada pihak lain.

5. Security

Pada tahap ini kamu sudah melek untuk mencari pasif income seperti investasi dan pasif income lainnya sehingga kamu benar-benar tidak perlu khawatir dengan kebutuhan harianmu.

Ketika gaji dari pekrejaan utama sudah habis, kamu tidak perlu membongkar dana cadangan karena masih memiliki penghasilan pasif.

Namun, bila kamu berpikir untuk resign dari pekerjaan ketika sudah mencapai tahap ini, sebaiknya pikirkan lagi.

6. Independence

Pada tahap ini, pendapatan pasifmu justru lebih besar dibandingkan gaji dari pekerjaan utama sehingga segara keinginan belanja–yang sebenarnya bukan kebutuhan pokok, hanya berupa gaya hidup–dapat terpenuhi tanpa mengesampingkan kebutuhan pokok.

Pada tahap ini, kamu dapat memilih untuk resign dari pekerjaanmu apabila sudah benar-benar yakin.

7. Abundance

Fase ini adalah fase yang sudah pasti dialami konglomerat, di mana mereka sama sekali tidak terjun langsung pada pekerjaan, hanya mengandalkan pendapatan dari saham maupun melakukan investasi lain.

Contohnya adalah pendiri Microsoft, Bil Gates. Karena setiap waktu pasti ada orang-orang yang membeli Microsoft maupun aplikasi lain keluarannya maka setiap saat dia mendapatkan pemasukan meskipun setiap hari selama sebulan hanya makan-tidur-melakukan hobi.

Pergi ke kantor sekadar untuk melepas rasa jenuh di rumah maupun jika ada urusan yang sangat penting dan hanya bisa ditangani dirinya sendiri.

Jika kamu sudah mencapai fase ini, artinya kamu benar-benar sudah berada di titik kebebasan finansial.

Apa Saja Langkah Menuju Kebebasan Finansial?

1. Pahami Keadaan Keuanganmu

Setelah mengetahui fase kebebasan finansial di atas, kamu akan lebih mudah memahami sudah berada di tahap mana keadaan keuanganmu.

Selanjutnya kamu dapat menentukan pengeluaran mana yang menjadi prioritas dan tabungan apa saja yang harus kamu buat (dana cadangan, tabungan kesehatan, tabungan untuk membeli rumah, dan sebagainya).

2. Catat Pengeluaran Harian

Meskipun kamu sudah memisahkan pendapatanmu untuk berbagai kebutuhan, termasuk mewajibkan diri sendiri untuk menabung sekian puluh atau sekian ratus ribu rupiah, kamu tetap harus mencatat pengeluaran harian.

Tujuan mencatat pengeluaran harian adalah untuk meminimalisir pengeluaran yang tidak penting, dengan nominal yang sebenarnya tidak begitu besar, tetapi sering dilakukan.

Contoh, setiap pulang kerja kamu pasti akan membeli cilok, cimol, dan jajanan murah-meriah lainnya. Untuk membeli makanan tersebut, kamu akan menghabiskan uang 5 ribu rupiah.

Lima ribu rupiah tampak sedikit. Namun, jika kamu bekerja selama lima hari dalam seminggu dan setiap hari kamu pasti membeli jajanan tersebut maka uang yang kamu keluarkan untuk membeli jajanan tersebut selama sebulan adalah 5x5x4 = 100 ribu rupiah.

Jika dalam seminggu kamu hanya jajan sebanyak dua kali maka kamu hanya mengeluarkan uang sebanyak 5x2x4 = 40 ribu, hemat 60 ribu. Uang tersebut bisa kamu alihkan untuk hal lebih penting seperti membeli bensin, membeli kebutuhan pribadi, hingga kuota internet.

Selain itu, uang tersebut juga bisa kamu alihkan sebagai dana cadangan sehingga jika ada kepentingan mendadak kamu tidak harus berutang atau jika tidak bisa digunakan untuk membayar seluruh keperluan tersebut, setidaknya kamu tidak perlu berutang banyak.

3. Mencari Pekerjaan Sampingan

Bila kamu berada pada fase dependence, solvency maupun stability maka kamu perlu mencari pekerjaan sampingan agar mendapatkan penghasilan tambahan.

Cara paling mudah adalah menawarkan jasa maupun menjadi reseller agar tidak rugi. Bila kamu memutuskan untuk menjual barang dengan modal sendiri maka jika mengalami kerugian kamu yang sebelumnya tidak memiliki utang bisa terlilit utang.

Saat ini rata-rata supplier/pedagang besar membuka sistem reseller dengan aturan pinjam barang maupun dropshipper.

Pinjam barang adalah meminjam beberapa barang dagangan untuk ditawarkan kepada calon pembelimu. Barang yang tidak laku bisa dikembalikan kepada supplier sehingga kamu tidak akan rugi.

Sedangkan sistem dropshipper adalah sistem reseller tanpa perlu stok barang. Kamu hanya perlu menunjukkan foto produk kepada calon pembeli, jika calon pembeli tertarik dan telah melakukan pembayaran, kamu baru melakukan pemesanan ke supplier.

Sementara itu, jika kamu menawarkan jasa maka kamu tidak perlu modal besar bahkan tidak perlu modal sama sekali. Sehingga saat tidak ada yang menggunakan jasamu maka kamu tidak akan rugi uang modal.

Contohnya, kamu hobi dan jago membuat ilustrasi secara digital. Karena menggambar secara dgital adalah hobimu, tentu kamu sudah memiliki perangkat untuk menggambar secara digital, maka kamu tidak perlu mencari modal untuk membeli perangkat baru.

Kamu hanya perlu menawarkan jasamu. Ketika tidak ada orang yang menggunakan jasamu, perangkat untuk menggambar tersebut tidak akan rusak dan menjadi sia-sia karena kamu tetap dapat menggunakannya untuk menjalankan hobi menggambar.

Sehingga, kerugianmu “sekadar” tidak mendapat penghasilan, tetapi tidak akan rugi pada uang modal.

4. Utang Satu Selesai, Jangan Berutang Lagi

Memiliki utang maupun cicilan? Usahakan segera lunasi utang maupun cicilan tersebut. Ketika utang maupun cicilan hampir maupun sudah selesai, jangan tergiur untuk mengambil cicilan/berutang lagi.

Ketika kamu sudah bebas dari utang/cicilan, selamanya kamu harus bebas. Jangan kembali terjebak dalam “lingkaran setan”.

Bagaimana dengan kartu kredit? Kartu kredit lazimnya justru diberikan kepada orang-orang dengan gaji besar, minimal 5 juta rupiah.

Walaupun kamu memiliki pendapatan lebih dari itu, sebenarnya kamu tetap akan merugi karena bila kamu menggunakannya untuk membeli barang maka harga barang akan dikenakan bunga 2% atau tergantung kebijakan bank.

Selain itu kamu juga harus membayar annual fee. Sehingga, kartu kredit meskipun memudahkan pembayaran sebenarnya merugikan.

Bila ingin bertransaksi dengan mudah, kamu bisa menggantinya dengan kartu debit. Saat ini banyak bank yang memberikan promo tak kalah menarik untuk kartu debit mereka.

5. Mulai Berinvestasi

Ketika kamu sudah mendapatkan penghasilan tambahan dan terbebas dari utang, mulai sisihkan uang untuk melakukan investasi. Kamu dapat berinvestasi dalam bentuk apapun di antaranya adalah membeli saham, menjadi pemodal bagi teman yang akan berwirausaha, membeli rumah/apartemen lalu menyewakannya, dan sebagainya.

6. Beranikan Diri untuk Berwirausaha

Langkah menuju kebebasan finansial yang terakhir adalah memulai wirausaha.  Ketika kamu hanya mengandalkan investasi, maka kamu akan tergantung pada pasar investasi tersebut.

Pada saham, kamu tidak akan selalu untung bahkan kamu harus siap untuk rugi besar.  Selain itu, ketika perusahaan terkait bangkrut maka kamu akan ikut merugi.

Jika menjadi pemodal untuk orang lain maka kamu harus tahu perkembangan usaha tersebut, jangan melepasnya begitu saja dan tidak menutup kemungkinan saat pertama kali usaha dirintis akan mengalami kerugian.

Sementara investasi properti jjika sedang dalam keadaan sepi maka kamu tidak akan mendapatkan penghasilan apapun.

Oleh karena itu, selain berinvestasi, kamu juga harus mulai membangun usahamu sendiri. Tidak harus usaha yang terkesan “wah”, asal tetap membuatmu memiliki pemasukan tambahan apabila investasi sedang loyo.

Baca Juga : Mengenal Prinsip Mengelola Keuangan Agar Finansial Baik dan Aman

Ingat, mengikuti langkah menuju kebebasan finansial saja tidak cukup. Kamu juga harus tahu apa saja fase kebebasan finansial dan di fase apa kamu berada sekarang sehingga kamu tahu harus mulai menerapkan langkah kebebasan finansial dari mana.

What's your reaction?

Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in:Finansial