Finansial Syariah

Sistem Keuangan Syariah Adalah: Pengertian, Prinsip dan Akad Transaksi

Sistem Keuangan Syariah Adalah

Sejak Bank Syariah muncul pada tahun 1991, sistem keuangan berbasis hukum Islam semakin dikenal luas. Hingga kini, status sistem keuangan syariah adalah salah satu sistem perbankan yang diakui di Indonesia selain konvensional. Seperti apa sebenarnya keuangan syariah tersebut?  

Pengertian Sistem Keuangan Syariah 

Secara umum, pengertian sistem keuangan syariah adalah suatu susunan yang bersifat teratur untuk menghubungkan antara pihak pemilik modal dengan pihak yang membutuhkan modal berdasarkan prinsip syariah. 

Produk dan jasa keuangan dalam sistem syariah bersumber pada Al Quran, hadist dan fatwa para ulama sehingga tidak menyimpang dari agama Islam. 

Definisi sistem keuangan syariah juga merujuk pada seperangkat kegiatan yang meliputi perencanaan, pengelolaan, penyimpanan, pemeriksaan dan pengendalian dana sesuai aturan Islam. 

Dalam praktik  keuangan syariah, dana yang bersumber dari nasabah akan dialihkan ke pihak pengguna sesuai hukum Islam untuk menghindari aktivitas bisnis yang haram. 

Beberapa ciri-ciri utama dari sistem keuangan syariah adalah: 

  • Al Quran sebagai sumber hukum paling tinggi
  • Bersifat universal dan transparan
  • Wujud toleransi umat Islam 
  • Berorientasi pada kebaikan untuk masyarakat luas
  • Harta publik merupakan harta milik Allah sehingga tidak boleh disalahgunakan untuk keuntungan pihak tertentu saja

(Baca Juga: Yuk Kenali Lebih Dalam Apa itu Investasi Saham Syariah!)

Prinsip-Prinsip Sistem Keuangan Syariah 

Apabila dibandingkan dengan sistem keuangan konvensional, sistem syariah ini memiliki prinsip yang jauh berbeda karena berporos pada hukum Islam. Seluruh proses manajemen keuangan syariah terjamin halal dan bermanfaat bagi umat. 

Berikut 8 hal yang menjadi dasar sistem keuangan syariah:  

Adanya Akad yang Sah 

Sistem Keuangan Syariah Adalah - Akad

Akad merujuk pada perjanjian atau kontrak yang dilakukan antara pihak-pihak yang terlibat dalam transaksi. Kedudukan akad dalam sistem keuangan syariah adalah penting karena sebagai bukti bahwa transaksi memang dikehendaki oleh pihak yang terlibat.

Artinya, tidak ada pihak yang merasa tertekan karena hanya pihak tertentu saja yang menghendaki terjadinya transaksi. Dengan adanya akad yang sah, maka tidak ada pihak yang merasa dizalimi karena berdasar pada mau sama mau yang untung-ruginya ditanggung bersama.  

Tidak Bersifat Spekulatif 

Sistem Keuangan Syariah Adalah

Sistem syariah tidak melakukan transaksi yang untung-untungan atau spekulatif. Islam melarang adanya praktik  tersebut karena berisiko memicu sengketa antara pihak yang terlibat dalam aktivitas keuangan.

Spekulasi melibatkan taruhan dan mengadu nasib yang memang dilarang dalam Islam sebab unsur ketidakpastiannya sangat tinggi. Nantinya, hanya ada salah satu pihak yang menanggung beban sehingga tidak ada ketidakadilan. 

Terbebas dari Unsur Penipuan

Sistem Keuangan Syariah Adalah - Penipuan

Keuangan syariah melarang adanya gharar. Istilah tersebut merujuk pada adanya tipuan yang bermaksud untuk merugikan orang lain. Semua kegiatan bisnis yang berdasar pada syariah Islam harus memiliki kejelasan, mendatangkan keuntungan yang merata dan memberikan manfaat. 

Tidak Ada Riba

 Sistem Keuangan Syariah Adalah - Tidak ada Riba

Salah satu prinsip yang paling membedakan sistem konvensional dengan sistem keuangan syariah adalah larangan riba. Dalam Al Quran sudah jelas disebutkan bahwa Allah mengharamkan adanya riba dalam transaksi apapun. 

Riba hanya menguntungkan salah satu pihak tanpa harus bersusah payah dan menjadikan pihak lain yang menanggung lebih banyak beban. Oleh sebab itu, sistem keuangan syariah tidak mengenal suku bunga dan menggantinya dengan bagi hasil. 

Kewajiban Zakat 

Sistem Keuangan Syariah Adalah - Kewajiban Zakat

Sudah jelas bahwa zakat diwajibkan bagi orang Islam yang mampu. Sistem keuangan syariah selalu menjalankan perintah tersebut dengan mengeluarkan sebagian dana dari kegiatan bisnis yang dilakukan. 

Risiko Profit & Loss Sharing

Sistem Keuangan Syariah Adalah - Profit and Loss

Kerugian dan keuntungan dalam sistem keuangan pasti selalu ada. Namun, berdasarkan aturan Islam tidak boleh ada pihak yang menanggung lebih banyak. Maka dari itu, sistem syariah memiliki risiko profit dan loss sharing. 

Artinya, pihak-pihak yang terlibat dalam transaksi akan berbagi keuntungan maupun kerugian. Dengan begitu, tidak ada pihak yang lebih diuntungkan ataupun lebih dirugikan. 

Aset Bersifat Rill 

Selanjutnya, prinsip yang mendasari sistem keuangan syariah adalah aset yang dilibatkan dalam transaksi harus berwujud nyata. Aset yang tidak bisa diidentifikasi karena keberadaannya yang kabur tidak akan dianggap sah. 

Prinsip semacam ini juga merupakan upaya untuk menghindari praktik penipuan, manipulasi dan hal lain yang merugikan salah satu pihak. 

Jenis Investasi Harus Halal 

Faktor halal menjadi prioritas utama dalam investasi berdasarkan sistem syariah. Lembaga keuangan syariah tidak boleh mendukung jenis investasi yang dihukumi haram oleh agama Islam. 

Sebab, sistem keuangan syariah tidak semata-mata mengejar keuntungan melainkan juga keselamatan, keamanan dan kebermanfaatan bagi umat. 

Jenis Akad Dalam Sistem Keuangan Syariah 

Transaksi yang berdasar pada sistem keuangan syariah menggunakan beberapa akad yang memiliki tujuan masing-masing. Berikut 9 akad yang lazim dipakai:

Mudharabah

Jenis akad kerjasama yang melibatkan pihak pertama sebagai pemberi modal dan pihak kedua sebagai penerima sekaligus pengelola modal tersebut. Pihak yang bertugas sebagai pengelola harus memiliki keahlian dan mengetahui hukum Islam. 

Hasil akad mudharabah dalam sistem keuangan syariah adalah kesepakatan termasuk nilai keuntungan yang nantinya diterima. Biasanya, kerugian akan ditanggung oleh lembaga keuangan syariah. 

Namun, lembaga keuangan akan lepas tangan apabila kerugian disebabkan oleh kesalahan yang disengaja oleh pihak kedua. 

(Baca Juga: 5 Macam-Macam Investasi Syariah Serta Hal yang Perlu Diketahui Terkait Investasi Syariah)

Wadiah

Akad wadiah disebut juga dengan akad penitipan murni. Mekanismenya, pihak penitip atau muwardi akan menitipkan suatu barang kepada pihak yang dititipi atau mustauda dengan tujuan agar barang tersebut aman. 

Tidak ada embel-embel lain dalam akad wadiah dan pihak penitip boleh mengambil barang tersebut kapanpun saat dibutuhkan. Dalam praktiknya, pihak penitip merujuk pada nasabah sedangkan pihak yang dititipi merujuk pada lembaga keuangan syariah. 

Murabahah

Akad murabahah dalam sistem keuangan syariah adalah akad jual beli barang yang biaya dan keuntungannya sudah disepakati oleh kedua belah pihak. Murabahah disebut juga dengan akad pembiayaan barang. 

Agar mudah dipahami, berikut skema akad murabahah: 

Pihak pembeli mengajukan pembelian ke lembaga keuangan syariah dengan menyodorkan spesifikasi yang jelas;

Setelah itu, lembaga keuangan syariah akan memberikan rincian biaya dan persyaratan kepada pihak pembeli;

Setelah ada kesepakatan, pembelian barang akan langsung diproses;

Kemudian, kedua pihak melakukan akad murabahah dan disaksikan oleh notaris;

Tahap serah terima barang secara simbolis dilakukan;

Setelah itu, supplier yang dipilih lembaga keuangan syariah akan mengirimkan barang tersebut;

Terakhir, pihak pembeli berkewajiban untuk melunasi pembayaran yang sudah disepakati. 

Musyarakah

Selanjutnya adalah akad musyarakah atau pembiayaan suatu usaha dengan menerapkan sistem bagi hasil. Pada sistem keuangan syariah adalah, biasanya lembaga keuangan syariah akan memberikan sejumlah modal pada pihak pemohon untuk menjalankan usaha maupun kegiatan lain. 

Nantinya, bagi hasil akan dilakukan sesuai nisbah yang sudah disepakati saat akad. Pihak pemohon wajib melaporkan hasil dari kegiatan usaha yang sudah dilakukan. Dengan begitu, penghitungan bagi hasil akan lebih mudah. 

Pembiayaan ini bisa dimanfaatkan untuk usaha jangka pendek maupun panjang asalkan jenis usahanya halal. 

Istishna

Jenis akad pembiayaan barang lainnya disebut dengan istishna. Pembiayaan barang dilakukan dalam bentuk pemesanan pembuatan barang sesuai request dari pihak pembeli. 

Namun, kriteria yang diajukan oleh pembeli sudah mendapat persetujuan dari pihak penjual sehingga tidak ada unsur paksaan. 

Secara garis besar, alur akad istishna dalam sistem keuangan syariah adalah sama halnya dengan murabahah. Pertama, pihak pembeli akan memesan barang kepada lembaga keuangan syariah. 

Setelah melakukan akad, maka barang akan diproses untuk kemudian diserahkan kepada pihak pembeli. 

Salam

Jenis akad yang lazim digunakan selanjutnya adalah salam. Akad salam merupakan perjanjian jual beli atas barang pesanan yang pengirimannya ditangguhkan namun pelunasan dilakukan pada saat akad disepakati. 

Seperti pada jenis lainnya, akad salam juga terjadi dengan persyaratan tertentu yang memang sudah disepakati oleh kedua belah pihak. 

Ijarah

Istilah yang biasa digunakan untuk ijarah adalah akad sewa. Pengertiannya yaitu akad yang memindahkan manfaat dari suatu barang tanpa memindahkan status kepemilikan dari barang tersebut. 

Ijarah juga disebut dengan akad ganti dan upah. Sebab, sesuatu yang disewa dalam kurun waktu tertentu akan diganti dengan biaya upah sesuai besaran yang sudah disepakati. 

Hukum ijarah menurut sistem keuangan syariah adalah diperbolehkan karena menyangkut kebermanfaatan yang bisa dirasakan bersama. Akad ijarah dapat menjadi pilihan bagi seseorang yang membutuhkan bantuan dari orang lain. 

Namun, ijarah tidak boleh dikenakan pada benda yang dapat diperjual belikan. Misalnya, menyewa domba untuk diambil susunya atau menyewa kebun pisang untuk diambil buahnya. 

Qardh

Qardh merupakan akad pinjaman tanpa melibatkan imbalan dan pihak peminjam wajib melunasi dengan jumlah yang sama. Pelunasan bisa dilakukan secara langsung maupun sistem cicilan selama jangka waktu sesuai kesepakatan. 

Ijarah Muntahiyah Bit Tamlik 

Akad ijarah muntahiyah bit tamlik pada dasarnya sama dengan akad ijarah hanya saja ada penawaran untuk memindahkan status kepemilikan atas barang yang disewa tersebut. 

Inti dari sistem keuangan syariah adalah sistem yang berpedoman pada hukum Islam. Dengan begitu, segala transaksi dan kegiatan keuangan lain tidak menyalahi aturan agama. 

Sistem syariah tersebut tidak semata berorientasi pada keuntungan melainkan keseimbangan dan kebermanfaatan. Maka dari itu, sebelum transaksi berjalan harus didahului dengan akad yang jelas untuk meminimalisir sengketa. 

 

Selain itu, akad dalam keuangan syariah juga sebagai bukti bahwa transaksi yang dilakukan sudah sesuai dengan syariat Islam. Unsur penipuan, riba, untung-untungan dan menguntungkan sepihak tidak ditemukan dalam praktiknya. 

 

What's your reaction?

Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *