FinansialFinansial Syariah

Yuk Simak 6 Perbedaan Lembaga Keuangan Syariah dan Konvensional

Secara umum, lembaga keuangan dibagi menjadi dua kategori utama, yaitu keuangan syariah dan konvensional. Lembaga keuangan ini bisa dipersempit menjadi “bank”, yang merupakan salah satu lembaga dengan peran besar dalam membantu perekonomian masyarakat dan negara. 

Lembaga ini tersedia di seluruh pelosok negeri dengan nama dan ukuran yang berbeda-beda. Ada yang mengatakan bahwa bank syariah lebih baik karena tidak mengandung riba, tapi ada juga yang berpendapat bahwa bank konvensional lebih sederhana dan mudah ditemukan. Kira-kira mana ya yang lebih baik?

Perbedaan Keuangan Syariah dan Konvensional

Bank dengan sistem keuangan syariah dan konvensional sebenarnya memiliki fungsi yang sama, yaitu sebagai tempat penyimpanan dan penarikan uang, menawarkan pinjaman kepada pelaku UMKM, dan untuk berbagai transaksi seperti membayar tagihan listrik, air, WiFi, membeli pulsa, dan sebagainya.

Keduanya juga sama-sama update dengan perkembangan teknologi, yang dibuktikan dengan segala macam transaksi sudah bisa dilakukan secara online, sehingga keduanya sama-sama mudah digunakan. 

Jika dilihat sekilas, keduanya memang terasa mirip ya, tapi jika diperhatikan lebih dekat, kamu akan menemukan bahwa bank syariah dan konvensional memiliki sejumlah perbedaan seperti berikut ini:

Sumber Hukum dan Sistem Operasional

Seperti namanya, lembaga keuangan syariah adalah lembaga yang dijalankan dengan sistem operasional dan sumber hukum sesuai dengan prinsip syariah, atau secara umum disebut prinsip agama Islam.

Prinsip-prinsip syariah ini didapat dari fatwa-fatwa yang dikeluarkan secara resmi oleh lembaga yang berwenang mengatur lembaga keuangan syariah di Indonesia yaitu DSN-MUI (Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia).

DSN-MUI sendiri membuat setiap fatwanya berdasarkan hadist dan Al-Qur’an, yang merupakan dasar atau pedoman dari agama Islam. 

Singkatnya, setiap kegiatan yang terjadi di dalam lembaga keuangan syariah tidak boleh bertentangan dengan ajaran Islam, karena itu bank-bank syariah tidak boleh berpartisipasi dalam membiayai bisnis alkohol, perjudian, prostitusi, dan sejenisnya.

(Baca Juga: Pengertian dan Jenis Akad Dalam Sistem Keuangan Berbasis Syariah)

Sedangkan sistem operasional bank konvensional bersifat lebih umum atau biasa disebut “bebas nilai”, yang artinya lembaga keuangan ini tidak berpatokan pada nilai-nilai agama tertentu, baik Islam maupun agama lainnya. 

Jadi tidak ada larangan bagi lembaga keuangan ini untuk berpartisipasi dalam kegiatan atau pembiayaan bisnis di bidang apapun. 

Satu-satunya sumber hukum dari lembaga ini adalah Undang-Undang Negara. Jadi jika ada kegiatan yang memang bisa memberikan keuntungan dan tidak bertentangan dengan Undang-Undang, maka lembaga keuangan konvensional boleh mengikutinya. 

Berbicara tentang Undang-Undang, bank syariah sebenarnya juga berlandaskan Undang-Undang lho, tapi pada pasal khusus yang mengatur lembaga keuangan syariah. Contohnya adalah Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 dan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998.

Sistem Pengelolaan Dana

Keuangan syariah dan konvensional - Pengelolaan dana

Bank syariah dan konvensional sama-sama memiliki tugas untuk mengelola dana perusahaan dengan baik dan benar agar bisa memberikan keuntungan bagi bank dan dapat memenuhi biaya operasional. 

Dana yang dikelola ini bisa berupa dana milik bank sendiri, ataupun dana yang berasal dari uang titipan para nasabah bank. 

Bank konvensional akan mengelola dana ini dengan cara apapun yang bisa mendatangkan keuntungan maksimal tapi tidak melanggar Undang-Undang, termasuk terjun ke berbagai lini bisnis yang dirasa aman, baik di dalam maupun luar negeri.

Sedangkan bank syariah tidak bisa sebebas ini. Bank syariah harus lebih berhati-hati dalam mengelola dana karena lini bisnis yang dipilih hanya boleh yang memenuhi syariat Islam.

Cara Mendapatkan Keuntungan

Keuangan syariah dan konvensional - Cara mendapatkan keuntungan

Salah satu tujuan dari setiap bisnis dan perusahaan yang didirikan pastinya adalah untuk mendapatkan keuntungan, kan? Tak terkecuali lembaga keuangan syariah dan konvensional. Kedua lembaga ini pastinya harus memberikan gaji kepada karyawan dan ada biaya operasional yang harus terus dipenuhi.

Namun, keduanya menggunakan perhitungan yang berbeda dalam hal mendapatkan keuntungan. Secara umum, istilah “keuntungan” dalam dunia bisnis biasa disebut dengan “bunga”, tapi lembaga keuangan syariah tidak menggunakan istilah bunga, melainkan “bagi hasil”. 

Jadi setiap keuntungan dan / atau kerugian yang didapat akan dibagi atau ditanggung secara kolektif (bersama-sama dan rata). Sedangkan bunga sendiri, bagi lembaga keuangan syariah dianggap sebagai riba, yang termasuk dosa besar dalam ajaran agama Islam.

Riba sendiri adalah bertambahnya nilai suatu barang sehingga bisa menguntungkan satu pihak tapi merugikan pihak lain. Sedangkan lembaga keuangan konvensional melakukan hal sebaliknya, yaitu menerapkan bunga di berbagai produknya, mulai dari tabungan, transaksi, hingga pinjaman. 

Bahkan di setiap cicilan nasabah dan pelunasan hutang sebelum waktunya, lembaga keuangan konvensional seringkali menerapkan bunga dan biaya pinalti. Biaya admin dalam berbagai transaksi juga termasuk lebih besar dibanding bank syariah.

Tapi meskipun harus mendapat untung sebanyak-banyaknya, lembaga keuangan konvensional tidak menerapkan bunga seenaknya kok, tapi harus tetap sesuai dengan aturan pemerintah.

Dalam hal lain, lembaga keuangan konvensional juga cenderung menerapkan sistem kredit, yang memang bisa meringankan nasabah tapi harga barang akan lebih tinggi dari harga awal tanpa adanya transparansi dan kesepakatan bersama. 

Sedangkan lembaga syariah lebih menerapkan murabahah (jual beli aset antara pihak bank dengan nasabah). Jadi pihak bank akan membeli barang yang dibutuhkan nasabah, kemudian menjualnya kepada nasabah dengan harga asli barang tersebut + keuntungan untuk lembaga.

Namun dalam hal mengambil keuntungan ini, pihak lembaga syariah akan memberitahu nasabah secara jujur tentang harga asli barang tersebut dan berapa biaya tambahannya, misalnya biaya jasa, angkut barang, ongkos mencari barang, atau lainnya.

Denda Keterlambatan

Keuangan syariah dan konvensional - Denda keterlambatan

Lembaga keuangan konvensional akan memberikan denda bagi setiap nasabah yang terlambat membayar angsuran, dan biasanya besaran denda akan terus bertambah seiring waktu, sehingga beban nasabah akan semakin bertambah.

Sedangkan lembaga keuangan syariah tidak menerapkan denda atau bunga dalam setiap keterlambatan pembayaran nasabah. Tapi agar nasabah tidak seenaknya, lembaga syariah akan memberikan sanksi kepada nasabah, jadi pembayaran angsuran pun akan tetap disiplin.

Sanksi keterlambatan ini biasa disebut “Ta’zir” (uang ganti rugi). Biasanya, ta’zir akan diberikan kepada nasabah yang sebenarnya sudah bisa membayar angsuran tapi tidak ada itikad baik untuk membayar atau sengaja menunda. 

Selanjutnya ta’zir ini tidak diakui sebagai uang denda atau laba oleh lembaga keuangan syariah, tapi dimasukkan ke dalam kategori “Dana Sosial”, yang penerapannya akan selalu diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah.

Dewan Pengawas

Keuangan syariah dan konvensional - Dewan pengawas

Lembaga keuangan syariah dan konvensional sebenarnya sama-sama diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Keduanya juga harus patuh pada peraturan BI. Tapi khusus untuk lembaga syariah ada pengawas tambahan yang disebut “Dewan Pengawas Syariah”, atau biasa disingkat DPS.

Anggota dari DPS ditunjuk langsung oleh DSN (Dewan Syariah Nasional). Sedangkan DSN sendiri bekerja di bawah naungan MUI (Majelis Ulama Indonesia).

Tugas utama DPS adalah mengawasi dan memastikan bahwa seluruh lembaga keuangan syariah yang ada di Indonesia sudah melakukan sistem operasional yang benar-benar sesuai dengan syariat Islam. 

Tugas lainnya adalah mengontrol produk-produk lembaga syariah, mengkaji jasa lembaga syariah, sebagai penasihat, melakukan audit internal, dan membuat serta menyampaikan hasil laporan pengawasan kepada DSN dan BI setiap 6 bulan sekali.

(Baca Juga: Sistem Keuangan Syariah Adalah: Pengertian, Prinsip dan Akad Transaksi)

Metode Transaksi / Akad

Keuangan syariah dan konvensional - Transaksi

Lembaga keuangan konvensional hanya menerapkan metode transaksi yang sesuai dengan kebijakan dan aturan yang dibuat pemerintah. 

Sedangkan lembaga keuangan syariah harus menerapkan metode transaksi yang sesuai kebijakan dan aturan pemerintah, plus sesuai dengan prinsip-prinsip agama Islam yang sudah diatur oleh MUI. 

Beberapa syarat utama dalam metode transaksi lembaga keuangan syariah dan konvensional adalah produk / barang dalam transaksi harus halal dan jelas, status kepemilikan tersebut harus jelas (bukan barang curian), penyerahan dilakukan ditempat yang jelas dan oleh pihak-pihak yang jelas. 

Intinya, transaksi ini harus transparan (tidak ada yang disembunyikan). Adapun metode transaksi yang biasa digunakan dalam lembaga keuangan syariah menurut MUI adalah:

  • Al-Mudharabah (bagi hasil): akad kerjasama yang terjadi antara pihak pertama / bank syariah (yang berlaku sebagai penyedia modal) dan pihak kedua (nasabah) selaku pengelola modal. 

Jika ada kerugian dalam akad ini, biasanya akan ditanggung oleh pihak pemberi modal, kecuali pihak penerima modal melanggar akad atau melakukan kesalahan secara sengaja.

  • Wadiah: akad penitipan uang atau batang antara pihak pemilik dengan pihak yang dititipkan. Pihak yang dititipkan harus menjaga barang tersebut sesuai amanah pemilik.
  • Musyarakah: akad antara dua atau lebih pihak dengan tujuan membentuk usaha dengan masing-masing pihak memberikan dana modal usaha.

Jika kembali ke pertanyaan “manakah yang lebih baik antara lembaga keuangan syariah dan konvensional?” Maka jawabannya adalah keduanya sama-sama baik dengan cara yang berbeda. Pilihan akhirnya tergantung pada prinsip dan keyakinan kamu sendiri, ingin yang sesuai Islam atau secara umum.

 

What's your reaction?

Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in:Finansial