Finansial Syariah

Pengertian dan Jenis Akad Dalam Sistem Keuangan Berbasis Syariah

Keuangan berbasis syariah

Konsep memelihara harta menurut Islam ada dalam keuangan berbasis syariah yang menganggap harta bukan sebagai kepemilikan mutlak dan dimanfaatkan hanya dalam jalur kebaikan. Orientasinya bukan lagi keuntungan semata melainkan pengelolaan seoptimal mungkin sesuai hukum Islam. 

Sistem keuangan berbasis syariah sudah lama dipraktekkan di Indonesia dan sampai sekarang menjadi model perbankan yang disandingkan dengan sistem konvensional. Penawaran sebuah sistem yang berbeda menyebabkan keuangan berbasis syariah banyak dilirik bukan oleh umat Islam saja. 

Pengertian dan Kelebihan Keuangan Berbasis Syariah

Sistem keuangan berbasis syariah merupakan salah satu sistem yang digunakan untuk menghubungkan pihak penyedia jasa keuangan dan pelanggan dengan berpedoman pada prinsip serta dasar hukum Islam. 

Keuangan berbasis syariah adalah sistem yang mengacu pada bagaimana Islam memandang harta sebagai amanah dari Allah sehingga harus dimanfaatkan untuk segala hal yang dibenarkan dalam agama. 

Keuntungan dalam keuangan yang berbasis syariah diambil secara sah sesuai hukum Islam. Selain itu, layanan yang diberikan mencakup penyaluran zakat, infaq dan sedekah. 

Sistem keuangan berbasis syariah ini digunakan oleh lembaga-lembaga keuangan yang terbagi menjadi 2 jenis yaitu lembaga keuangan bukan bank dan lembaga keuangan bank. Lembaga keuangan bukan bank adalah usaha keuangan yang memiliki ciri masing-masing. 

Sedangkan lembaga keuangan bank merupakan usaha keuangan yang menawarkan jasa terlengkap mulai dari penghimpunan sampai penyaluran dana. 

Contoh lembaga keuangan bank berbasis syariah antara lain Bank Pembiayaan Rakyat Syariah, Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Khusus Syariah. Contoh lembaga keuangan bukan bank yaitu pasar uang syariah, perusahaan asuransi syariah, pasar modal syariah dan dana pensiun syariah. 

Beberapa kelebihan yang dimiliki sistem keuangan berbasis syariah yaitu:

  • Menggunakan prinsip akad yang jelas dan pasti 
  • Memiliki landasan prinsip syariah
  • Memberikan keuntungan melalui sistem bagi hasil tanpa menzalimi pihak tertentu
  • Melakukan pengelolaan dana usaha untuk hal yang hukumnya halal, bermanfaat dan menguntungkan
  • Menerapkan jumlah angsuran yang sifatnya tetap 
  • Memperhatikan kepentingan orang lain dengan adanya zakat, infak dan sedekah
  • Menciptakan hubungan kemitraan yang baik antara lembaga keuangan dan pelanggan 

Jenis Akad Transaksi Syariah 

Kedudukan akad dalam sistem keuangan berbasis syariah sangat krusial. Artinya, transaksi baru dikatakan sah apabila syarat dan rukun akad terpenuhi. Jumlah rukun tersebut ada 3 berdasarkan fatwa mayoritas ulama. 

Pertama adalah shighat yang merujuk pada ijab & qabul atau serah terima. Maksud shighat harus jelas, di laksanakan pada saat itu juga, dan tahap serah dan terima dilakukan berturut-turut yang menuntut kesesuaian antara keduanya. 

Kedua yakni pelaku akad yang berasal dari pihak individu maupun badan hukum tertentu. Pelaku akad harus mukallaf dan sanggup melaksanakan kewajiban dan mendapatkan hak sesuai syariah. 

Rukun yang ketiga yakni objek yang menjadi transaksi. Syarat objek tersebut harus ada ketika akad dilaksanakan, bersifat legal, diketahui secara jelas oleh pihak yang terlibat dalam akad, dan bisa diserahterimakan. 

(Baca Juga: Sistem Keuangan Syariah Adalah: Pengertian, Prinsip dan Akad Transaksi)

Dengan adanya akad, kedua belah pihak yang melakukan transaksi telah membuat kesepakatan dan salah satu pihak terikat untuk melaksanakan kewajiban dan mendapatkan hak. 

Jenis akad yang umum dipakai dalam keuangan syariah terbagi menjadi dua yakni akad tabarru dan akad tijarah. Berikut penjelasan detailnya: 

Akad Tabarru

 

Dalam keuangan berbasis syariah terdapat akad nirlaba yang dikenal dengan akad tabarru. Artinya, akad tersebut tidak bertujuan untuk mendapatkan keuntungan dari transaksi yang terjadi. 

Akad tabarru murni dilakukan demi memberikan bantuan bagi orang lain yang memang berhak. Jenis akad ini terbagi menjadi 3 antara lain: 

Akad Meminjamkan Jasa

Keuangan berbasis syariah - Akad meminjamkan jasa

Seperti namanya, akad ini bertujuan untuk memberikan pinjaman jasa kepada pihak yang meminta. Macamnya ada 3, meliputi:  

Wakalah merupakan penyerahan mandat dari pihak pertama ke pihak kedua untuk melaksanakan transaksi yang bisa diwakilkan. Nantinya, risiko dan tanggung jawab tetap menjadi kewenangan pihak pertama;

Wadiah merupakan akad penitipan yang objek transaksi dan cara pengelolaannya sudah jelas terinci sesuai kesepakatan. Akad wadiah tidak dilaksanakan dengan mengatasnamakan orang lain;

Kafalah merupakan akad pengalihan tanggungjawab seseorang kepada pihak ketiga dengan memberikan imbalan. Sederhananya, pihak kedua memiliki penjamin untuk menunaikan kewajiban pada pihak pertama. 

Akad Meminjamkan Uang

Keuangan berbasis syariah - Akad meminjamkan uang

Selanjutnya adalah akad yang tujuannya untuk memberikan pinjaman berupa uang tunai. Akad ini terbagi menjadi 3 macam antara lain: 

Qardh adalah akad pinjaman murni karena tidak mensyaratkan apapun selain melunasi pinjaman dalam jangka waktu yang sudah disepakati;

Hiwalah adalah persetujuan untuk mengalihkan penagihan utang kepada pihak ketiga sebagai penanggung dari pihak asli yang berhutang;

Rahn adalah akad yang bertujuan untuk meminjamkan uang dengan meminta syarat berupa barang sebagai jaminan.  

Akad Memberikan Barang 

Keuangan berbasis syariah - Akad meminjamkan barang

Bentuk akad yang bertujuan untuk memberikan barang terbagi menjadi dua, yakni: 

  • Waqaf merupakan pemberian yang tidak bisa dipindahtangankan dan bertujuan untuk kepentingan bersama serta agama;
  • Hibah merupakan pemberian barang yang dilakukan secara sukarela tanpa paksaan maupun menuntut imbalan. 

Akad Tijarah 

Pengertian akad tijarah dalam keuangan berbasis syariah adalah akad yang dilaksanakan untuk mendapatkan keuntungan. 

Agar dikatakan sah, keuntungan tersebut harus sesuai dengan kesepakatan antara pihak yang terlibat dalam transaksi, tidak ada unsur kebohongan dan tidak menzalimi salah satu pihak. 

Akad tijarah terbagi menjadi 2 jenis, antara lain: 

Perjanjian dengan Imbal Hasil yang Pasti

Disebut memiliki nilai bagi hasil yang pasti karena aset yang saling ditukarkan sudah ditetapkan sejak akad dilakukan. Aset tersebut sudah jelas akan mutu, harga dan jumlahnya. 

Jenis akad bagi hasil yang nilainya pasti yaitu:

  • Murabahah adalah akad jual-beli barang yang sudah menetapkan biaya perolehan dan margin keuntungan kepada pihak pembeli sejak awal dilakukannya akad; 
  • Ijarah adalah akad sewa-menyewa atau pemindahan manfaat yang dimiliki barang maupun jasa selama kurun waktu tertentu yang biaya sewa maupun upahnya telah disepakati bersama. Pemindahan ini tidak diikuti dengan pergantian kepemilikan; 
  • Istishna adalah akad jual-beli dalam bentuk pemesanan barang sesuai permintaan dari pihak pembeli sehingga kriteria dan harganya sudah jelas. Sistem pembayaran boleh dilunasi di awal maupun dicicil selama waktu yang disepakati
  • Salam adalah akad jual-beli suatu barang sesuai pesanan pihak pembeli dengan pembayaran yang dilunasi di awal. 

Perjanjian dengan Imbal Hasil yang Tidak Pasti

Kebalikan dari sebelumnya, bentuk akad ini tidak memberikan nilai bagi hasil yang pasti karena adanya percampuran aset antara pihak yang terlibat dalam transaksi. 

Konsekuensinya, kedua pihak tersebut harus menanggung risiko bersama sehingga belum bisa ditetapkan berapa imbal hasilnya. 

Akad ini terbagi menjadi 2 jenis yaitu:

  • Musyarakah disebut dengan akad kerjasama karena merujuk pada penggabungan modal untuk menjalankan aktivitas bisnis sesuai syariah Islam. Nilai bagi hasil tergantung dari kesepakatan sedangkan kerugian ditanggung sesuai besarnya modal yang diberikan
  • Mudharabah merupakan akad kerjasama yang memberikan hak pada pihak pengelola untuk menggunakan dana dari pemilik modal dengan nilai bagi hasil sesuai kesepakatan. 

Kerugian akan ditanggung oleh pengelola asalkan tidak ada unsur kesengajaan yang dilakukan oleh pemilik modal. 

Larangan dalam Transaksi Keuangan Berbasis Syariah

Keuangan yang berpedoman pada prinsip-prinsip syariah, tidak menerapkan praktik berikut ini dalam transaksinya: 

Riba

Dalam Al Quran sudah jelas disebutkan bahwa Allah mengharamkan praktek riba karena memberikan keuntungan berlipat ganda bagi salah satu pihak. 

Bentuk riba ada 2 yaitu nasiah dan fadhl. Riba nasiah disebabkan oleh utang piutang yang membebankan dana lebih pada pihak peminjam. Contohnya adalah sistem suku bunga pada produk perbankan konvensional. 

Kedua adalah riba fadhl yang disebabkan oleh adanya pertukaran barang dengan membebankan nilai lebih pada pihak yang memohon penukaran. 

Oleh sebab itu, keuangan syariah menerapkan sistem bagi hasil yang lebih adil, aman dan hukumnya halal. 

(Baca Juga:

Gharar

Keuangan berbasis syariah melarang adanya gharar dalam setiap transaksi yang dilakukan. Gharar merupakan transaksi jual-beli yang mengandung unsur spekulasi. Dalam Islam, spekulasi tidak diperbolehkan karena memiliki ketidakjelasan. 

Spekulasi tersebut bisa menyebabkan sengketa dan kerugian yang besar pada salah satu pihak. Artinya, ada pihak tertentu yang dizalimi oleh pihak lain yang tentu saja tidak sesuai dengan hukum Islam. 

Maka dari itu, keuangan syariah sangat menekankan pada akad transaksi untuk membuat segalanya jelas dari awal dan sesuai kesepakatan yang hasilnya saling menguntungkan.  

Penipuan

Transaksi yang mengandung unsur penipuan tidak ditemukan dalam sistem keuangan syariah. Sebab, penipuan berakibat pada kerugian yang ditanggung oleh pihak tertentu. Tidak ada manfaat yang bisa dihasilkan dari transaksi semacam itu. 

Bentuk penipuan seperti mencampur kualitas barang yang baik dengan yang buruk, mengurangi kuantitas suatu barang dan menetapkan harga yang terlalu tinggi dari harga standar. 

Penimbunan Barang 

Keuangan syariah tidak membenarkan adanya penimbunan barang transaksi. Hal tersebut hanya akan menyulitkan orang lain yang memang membutuhkan. 

Lembaga yang menerapkan sistem keuangan syariah selalu mengelola dana nasabah sebaik dan seoptimal mungkin demi kepentingan bersama. Selain itu, pengelolaan juga mempertimbangkan keuntungan yang tidak hanya memperkaya pihak tertentu. 

Keuangan berbasis syariah memiliki sistem yang berbeda dari model keuangan konvensional. Perbedaan yang mencolok terletak pada pembagian keuntungan yang berbentuk bagi hasil, penggunaan akad transaksi yang jelas dan pengelolaan dana untuk hal yang sesuai syariah Islam. 

Saat kamu memutuskan untuk menggunakan produk keuangan yang berbasis syariah, maka pilih dengan baik akad apa yang akan dipakai. Sebab, setiap akad memiliki ketentuan, hak dan kewajiban yang berbeda. 

 

What's your reaction?

Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *