AsuransiFinansial Syariah

6 Kriteria Asuransi Kesehatan dalam Islam Sesuai Fatwa MUI

Asuransi kesehatan dalam islam

Sebagai umat Islam yang taat terhadap hukum Islam, kamu tentu ingin memahami pandangan Islam yang berkaitan dengan asuransi sebelum melakukan pembelian asuransi kesehatan atau asuransi lain. Ada banyak pendapat tentang asuransi kesehatan dalam islam. Tapi kamu tidak perlu khawatir lagi.

Saat ini sudah ada asuransi kesehatan yang bersifat syariah atau asuransi yang dilandaskan pada prinsip-prinsip Islam. Selain itu, asuransi syariah berjalan di bawah pengawasan Dewan Syariah Nasional. Apa keunggulan dari asuransi tersebut dibandingkan dengan asuransi kesehatan biasanya?

Asuransi Menurut Islam – Haram atau Halal?

Sebenarnya, asuransi kesehatan maupun asuransi jenis lain tidak haram kalau asuransi tersebut sesuai dengan Al Quran dan fatwa MUI. Sebagian ulama meyakini bahwa asuransi mempunyai manfaat dalam saling menolong dan melindungi sesama umat Islam, bahkan antar sesama manusia. 

Musibah bisa datang kapan saja sehingga kehadiran asuransi syariah yang berlandaskan pada ajaran Islam bisa sangat membantu. Ada setidaknya 2 landasan untuk kamu jadikan acuan saat memilih produk asuransi yang benar-benar sesuai dengan hukum dalam Islam.

Fatwa Majelis Ulama Indonesia untuk Asuransi Kesehatan

Asuransi kesehatan dalam islam - MUI

Tidak ada aturan dalam Islam yang melarang kamu atau umat Muslim lainnya yang ingin menjadi peserta suatu asuransi. Sebuah produk asuransi halal untuk dimiliki selama dana yang dikumpulkan kemudian dikelola berdasarkan pada syariat Islam. Ada Pedoman Umum Asuransi Syariah tentang hal ini:

Asuransi merupakan suatu usaha saling menolong antar peserta asuransi yang dilakukan melalui suatu bentuk investasi baik dalam bentuk tabarru maupun asset kemudian akan dikembalikan jika menghadapi sebuah resiko tertentu melalui adanya akad yang sesuai dengan hukum syariah.

Asuransi syariah mengelola dana dari nasabah harus berdasarkan pada prinsip-prinsip syariah serta tidak mengandung maisir atau perjudian, gharar atau ketidakpastian, riba, serta tidak boleh mengandung barang maksiat atau barang haram di dalamnya.

Asuransi syariah wajib mempunyai akad tijarah yaitu seluruh bentuk akad memiliki tujuan komersial.

(Baca Juga: Rekomendasi 6 Pilihan Asuransi Jiwa Syariah Terbaik Tahun 2021)

Adanya akad tabarru iaitu seluruh bentuk akad dengan tujuan saling menolong dan bukan mempunyai tujuan komersial.

Sejumlah dana yang merupakan premi dibayarkan oleh peserta asuransi kepada penyedia asuransi sesuai kesepakatan yang telah disetujui dalam akad.

Perusahaan asuransi wajib memberikan klaim kepada peserta asuransi sesuai dengan kesepakatan akad.

Akad atau kesepakatan dalam asuransi harus menyebutkan berbagai hal penting seperti kewajiban dan hak perusahaan dan peserta asuransi, waktu dan cara pembayaran premi, jenis akad tabarru atau tijarah serta syarat yang sudah disepakati.

Selama suatu asuransi sudah disetujui oleh Dewan Syariah Nasional serta Majelis Ulama Indonesia, produk asuransi tersebut sudah dikategorikan sebagai produk yang menepati ketetapan fatwa MUI. Kamu pun tidak perlu ragu untuk membeli asuransi kesehatan syariah atau asuransi syariah jenis lain.

Hal Penting bagi Perusahaan Asuransi Kesehatan dalam Islam

Asuransi kesehatan dalam islam

Perusahaan asuransi yang akan menyediakan produk asuransi berbasis syariah harus memperhatikan berbagai hal penting sehingga semua produk yang disediakan akan benar-benar sesuai dengan semua prinsip syariah serta berdasarkan pada fatwa MUI dan tidak melanggar hukum Islam tentang asuransi.

Perusahaan asuransi syariah tidak boleh memasukkan unsur yang bersifat riba ke dalam perhitungan pembayaran premi.

Investasi yang perusahaan asuransi lakukan harus benar-benar sesuai dengan semua prinsip Islam. Hal ini berarti investasi tersebut tidak boleh mengandung unsur perjudian, penipuan, riba, dan berbagai unsur haram lainnya.

Dalam akad asuransi kesehatan yang disediakan, harus disebutkan secara jelas tentang kewajiban dan hak perusahaan serta peserta asuransi. Ini mencakup waktu serta cara pembayaran premi, jenis asuransi yang disetujui kedua pihak, dan jenis akad tabarru atau tijarah.

Perusahaan penyedia asuransi kesehatan syariah akan berperan sebagai pihak pemegang yang amanah sehingga harus melakukan investasi tanpa meninggalkan prinsip syariah yang berlaku.

Perusahaan melakukan reasuransi hanya pada perusahaan asuransi lain yang juga syariah. Reasuransi yaitu ketika suatu perusahaan asuransi kesehatan mengasuransikan perusahaannya ke perusahaan asuransi yang lain.

Perusahaan asuransi syariah harus melakukan pengelolaan asuransi seluruh nasabah dan tidak boleh menyerahkan tanggung jawab tersebut kepada lembaga lainnya.

Implementasi dari seluruh fatwa asuransi kesehatan syariah harus terus dikonsultasikan serta diawasi oleh Dewan Syariah Nasional.

Klaim terhadap akad, baik akad tabarru maupun tijarah adalah hak bagi peserta asuransi dan wajib diberikan oleh perusahaan asuransi sesuai dengan yang tertulis dalam perjanjian.

Jika terjadi suatu perselisihan antara peserta dan perusahaan asuransi atau satu dari kedua pihak menghindari kewajiban, penyelesaian masalah tersebut harus dilakukan lewat Badan Arbitrase Syariah apabila kesepakatan melalui musyawarah tidak tercapai.

Perusahaan asuransi syariah diijinkan untuk menerima fee atau ujrah dari adanya pengelolaan dana hibah atau akad tabarru.

Apakah kamu sudah yakin kalau asuransi yang berdasarkan syariah memang halal dan akan sangat bermanfaat untuk masa depan dan terutama keluargamu? Kalau kamu masih belum sepenuhnya yakin, kamu bisa mempelajari kriteria asuransi kesehatan yang sesuai dengan fatwa MUI.

Kriteria Asuransi Kesehatan Dalam Islam Sesuai Fatwa MUI

Ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi oleh suatu perusahaan yang menyediakan produk asuransi kesehatan sehingga bisa disebut sebagai perusahaan asuransi syariah yang bersifat halal dan boleh digunakan oleh umat Muslim di Indonesia. Berikut beberapa kriterianya.

Menggunakan unsur saling menolong

Asuransi kesehatan dalam islam -Tolong menolong

Sesuai dengan fatwa MUI, asuransi bisa disebut syariah atau sesuai prinsip Islam yang berlaku jika asuransi kesehatan tersebut mengutamakan unsur saling menolong di antara para peserta asuransi. Unsur penting itu bisa diwujudkan dengan adanya dana kontribusi atau tabarru.

Dana tabarru terkumpul dari berbagai premi yang dibayarkan oleh peserta asuransi kesehatan dan menjadi milik bersama. Jika satu dari sekian banyak peserta asuransi menghadapi resiko yang ditanggung di dalam polis, dana tabarru akan digunakan dalam membantu peserta itu.

Keuntungan dan resiko yang ada adalah milik bersama

Asuransi kesehatan dalam islam - Keuntungan dan resiko

Asuransi yang sesuai dengan semua prinsip Islam adalah suatu asuransi yang keuntungan serta resiko yang ada dalam investasi dibagi ke perusahaan dan peserta asuransi secara adil dan merata. Asuransi syariah tidak akan berdiri hanya untuk mendapatkan keuntungan komersial.

Resiko juga akan menjadi tanggung jawab yang akan dipikul bersama. Resiko ini memaksudkan ketika seorang peserta asuransi menghadapi kerugian, maka klaim bisa diperoleh dari adanya dana tabarru atau dana kontribusi maupun premi yang dibayarkan oleh peserta asuransi yang lainnya.

Dana kontribusi atau premi yang dibayarkan tidak akan hangus

Asuransi syariah akan benar-benar sesuai dengan seluruh prinsip Islam tidak akan mengambil keuntungan apabila ada peserta asuransi yang tidak mengambil klaim sampai polis mencapai masa akhirnya. Hal ini sesuai dengan fatwa MUI bahwa asuransi akan bersifat saling menolong, bukannya riba.

Apa yang akan terjadi kalau kamu tidak mengajukan klaim pada perusahaan penyedia asuransi hingga di akhir masa polis? Dana kontribusi atau premi yang sudah kamu bayarkan sebelumnya akan digabungkan ke dalam dana tabarru.

(Baca Juga:  Sistem Keuangan Syariah Adalah: Pengertian, Prinsip dan Akad Transaksi)

Asuransi mempunyai sistem pengelolaan dana yang bersifat transparan

Pengelolaan dana dalam suatu asuransi yang sesuai dengan syariat islam pasti akan bersifat transparan sehingga tidak akan ada unsur haram seperti pengambilan keuntungan maupun pengelolaan dana diluar syariat Islam yang berlaku.

Sebagai contoh, ada selisih dari seluruh total dana premi yang peserta bayarkan ke dana tabarru setelah dana tersebut dikurangi dengan pembayaran klaim. Hal ini dikenal dengan istilah khusus yaitu surplus underwriting. Dana itu akan dibagi merata ke dana tabarru dan tidak akan dikorupsi.

Asuransi syariah merupakan satu dari banyak bentuk muamalah

Muamalah merupakan interaksi sosial yang berlangsung antar manusia dan sesuai dengan syariat dalam Islam. Contoh muamalah merupakan perdagangan dan jual beli. Berdasarkan fatwa MUI, produk asuransi juga bersifat muamalah karena melibatkan beberapa manusia dalam suatu hubungan finansial.

Meskipun bersifat muamalah yaitu perdagangan, tentu saja asuransi kesehatan yang syariah akan selalu mengikuti prinsip syariah atau ajaran yang berlaku dalam Islam.

Asuransi kesehatan syariah selalu mengikuti akad

Fatwa MUI menetapkan berbagai aturan untuk akad asuransi yang harus digunakan di perusahaan asuransi syariah. Akad tersebut berperan sebagai pengikat antara perusahaan dan peserta asuransi. Akad yang digunakan adalah akad tijarah, akad tabarru, serta akad wakalah.

Dengan memahami asuransi kesehatan dalam Islam secara mendalam, kamu akan bisa mengerti perusahaan mana yang benar-benar syariah dan perusahaan asuransi mana yang hanya mencari keuntungan sehingga kamu bisa memilih asuransi yang sesuai dengan hukum Islam.

 

 

What's your reaction?

Excited
0
Happy
0
In Love
0
Not Sure
0
Silly
0

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in:Asuransi